Ahlan Wa Sahlan

Senin, 29 Desember 2014

Surat Buat Ukhti...!!!

Bismillahirrohmanirrohim 
 
Teruntuk Ukhtifillah
Dimanapun engkau berada

Ku tulis surat ini juga karena cinta kepada Allah …


Ukhti fillah…
Terimakasih sebanyak-banyaknya karena engkau sudi mengingatkan kami. Engkau benar, Allah Sang Khaliq menciptakan kita tak lain dan tak bukan hanya untuk beribadah kepada-Nya.  Menggapai ridho-Nya baik di dunia juga  di akhirat itulah tujuan hidupku. Tak sedikitpun aku berniat untuk menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan kepadaku. Bukankah setiap detik, jam, hari, bulan dan tahunnya akan dimintai pertanggungjawaban? Qur’an dan sunnah nabiku sebisa mungkin ku peluk erat, ku jadikan sandaran dalam melangkah. Tapi, kadang dalam langkahku ada batu dan duri-duri tajam yang tak kuasa aku hindari. Salah satunya adalah engkau wahai saudariku, engkau telah menjadi fitnah terbesarku!



Ukhti fillah …
Ketahuilah, dalam  Al Quran yang mulia Allah telah berfirman : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imran: 14)


Cantik parasmu dan kemolekan tubuhmu, jika tidak engkau lindungi sungguh akan menjadi candu yang membinasakan untukku. Sepandai-pandainya aku menjaga pandangan semakin keras jerat tipu daya setan kepadaku. Pun jika tubuhmu telah tertutup rapat, tapi karena alasan mengikuti fashion dan ingin tampil gaya kau langgar rambu-rambu syariat. Lekuk tubuhmu masih jelas terlihat, wangi parfummu semerbak menjalar kesuluruh syaraf-syarafku dan kosmetik yang kau pakai untuk menghias wajahmu semakin memabukkanku. 


Hentikanlah! Jika engkau ingin ku pinang jadilah wanita sholehah untukku, bukankah sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholehah? Wanita-wanita yang selalu taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya serta senantiasa menjaga dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain.  Aku juga yakin, kau telah mengkaji hal ini dalam majelis-majelis ilmu yang engkau ikuti. Maka takutlah kepada Allah dan adzabnya yang pedih.


Ukhti fillah …
Ketika engkau berusaha sebaik mungkin menjadi wanita sholehah, aku disini, di sepertiga malam-Nya senantiasa bermunajat kepada Sang Maha Rahman agar aku mampu menjadi qowwam yang baik untukmu. Memuliakanmu dan juga menjadi pelindungmu. Karena aku tahu, kelak ketika aku sudah mengikat janji yang maha berat antara aku, engkau dan Tuhanku, janji yang sama dahulu ketika Allah membuat perjanjian dengan para Rasul dan juga janji antara Allah dan umatnya nabi Musa a.s. maka saat itu juga jatuhlah kewajibanku untuk menjaga, melindungi dan memuliakanmu.


Ukhti fillah …
Mengingat beratnya perjanjian yang aku pikul nantinya aku ingin engkau benar-benar menjadi seorang wanita yang mau belajar untuk benar (dalam aqidah), sederhana, sabar, setia, menjaga kehormatannya tatkala suami tidak ada di rumah, mempertahankan keutuhan (rumah tangga) dalam waktu susah dan senang serta mengingatkan untuk senantiasa ada dalam naungan Allah Swt. Karena hanya dengan itu aku bisa ridho, dan hanya dengan itu aku bisa kuat menjadi qowwam untukmu.


Ukhti ….
Aku rasa cukup sekian surat dariku. Aku harap engkau mampu memahami maksud dari tulisanku. Semoga Allah senantiasa memeliharamu, menjaga kesucianmu dan meninggikan akhlakmu.
Saudaramu.
#Tetap Hamasah To The Way Of Alllah ;)

Senin, 15 Desember 2014

Hijrah dari Kemusyrikan Kepada Tauhid

 MediaMGC _ Allah Swt berfirman, Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).
Hal paling prinsipil yang harus kita lakukan adalah berhijrah dari perbuatan kemusyrikan kepada tauhid. Hijrah dari menuhankan manusia kepada hanya menuhankan Allah semata, Dzat Yang Menciptakan manusia. Hijrah dari menuhankan harta kekayaan kepada hanya menuhankan Allah Swt semata Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki. Hijrah dari sikap menuhankan jabatan dan kedudukan kepada hanya menuhankan Allah Swt Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dialah Allah yang memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dialah Allah yang mencabut kekuasaan dari siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya. Allah Swt. berfirman, Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran [3]: 26).  

Bukan manusia, bukan pula harta. Bukan jabatan, kedudukan, bukan pula kekuasaan. Hanya Allah Swt satu-satunya yang patut dipertuhankan. Dialah Sang Pemilik segalanya dan Dialah pula yang memberikan rezeki dan kekuasaan serta mencabutnya dari manusia.

Tidak sedikit manusia yang berpikir bahwa gelar akan bisa menyelamatkannya. Gelar akan memberikan rezeki kepadanya. Gelar akan memberikan kedudukan untuknya. Gelar pula yang akan memberikan kebahagiaan kepadanya. Jika gelar sudah dipertuhankan oleh seseorang, maka dijamin hidupnya tidak akan tentram. Ia tidak akan memperoleh kesuksesan yang hakiki.

Gelar memang boleh disandang. Gelar juga baik untuk dimiliki. Namun, apabila gelar sudah dipandang sebagai sumber kemuliaan, sumber kesuksesan, sumber kebahagiaan, sumber kesejahteraan, ini adalah sikap yang keliru. Bagi seorang muslim, sesungguhnya tidak ada kemuliaan kecuali bersumber dari Allah. Tidak ada kesuksesan kecuali bersumber dari Allah. Tidak ada kesejahteraan kecuali datang dari Allah. Seorang muslim selalu meyakini bahwa dunia hanyalah fasilitas saja. Segala fasilitas di dunia ini adalah untuk dipergunakan dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.

Allah Swt berfirman, Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al Baqarah [2]: 29).

Jelaslah bahwasanya Allah Swt menciptakan dunia dan seisinya adalah sebagai sarana untuk manusia. Atau sebagai pelayan untuk manusia. Sarana atau pelayan ini adalah untuk dipergunakan oleh manusia sebagai penunjang beribadah kepada Allah Swt.

Demikianlah susunan yang semestinya. Manusialah sang majikan sedangkan kekayaan duniawi adalah sarana dan pelayannya. Jangan sampai jadi terbalik, majikan diperbudak oleh sarana dan pelayannya. Jika ini terjadi, maka sungguh menjadi sangat hina dan rendahlah derajat sang majikan. Jika manusia diperbudak oleh hal-hal duniawi, maka menjadi rendah dan hinalah ia.

Bukti bahwa dunia dan seisinya ini hanya sarana dan pelayan saja adalah bahwa makanan hadir untuk menutupi rasa lapar. Pakaian hadir untuk melindungi tubuh dari cuaca. Obat-obatan hadir untuk memulihkan rasa sakit. Akan tetapi ketika manusia menuhankan dunia, maka kebahagiaan tak bisa diraihnya. Tidak heran jika kita banyak menemukan orang-orang yang kaya raya namun hidup di dalam kegelisahan dan tidak berbahagia.

Sesungguhnya dunia ini tiada berharga. Oleh karena itulah mengapa tak hanya orang-orang beriman, bahkan orang-orang pelaku kemaksiatan, dzalim, bergelimang dosa, dan pelaku kemusyrikan pun diberikan hal-hal duniawi. Yaitu seperti harta kekayaan, jabatan, gelar, pangkat, dan popularitas.             

Satu contoh. Seorang isteri shalehah yang ditinggalkan oleh suaminya untuk selama-lamanya. Sang ibu tersebut ditanya, “Bu, bagaimana selanjutnya, suami ibu meninggal dunia. Bagaimana dengan nafkah keluarga?” Kemudian, ibu tersebut menjawab, “Suami saya memang sudah tiada. Allah Swt Sang pemilik manusia, telah memanggilnya. Bukankan setiap kita juga akan kembali kepada-Nya. Adapun rezeki saya, bukanlah bersumber dari suami saya. Suami saya hanya perantara saja. Rezeki sesungguhnya bersumber dari Allah Swt. Suami saya memang telah tiada. Tapi, Allah Maha Ada dan akan selalu ada.”

Subhanallah! Simaklah ucapan ibu tersebut. Demikianlah sikap orang yang tidak mempertuhankan dunia. Ia akan tetap berpegang teguh kepada Allah di dalam situasi seberat apapun. Dia selalu yakin bahwa semakin berat keadaan yang menimpanya, maka semakin kuat ia berpegang kepada Allah Swt. Semakin sulit keadaan yang menimpanya, semakin kuat pula ia berdoa kepada-Nya. Semakin yakin bahwa hanya Allah Swt yang kuasa menolongnya.

Contoh lain, orang yang pecandu rokok. Mungkin kita sudah tidak asing lagi mendengar celetukan orang yang berbunyi, “Saya tidak bisa tenang kalau tak merokok!” atau, “Saya tak bisa kerja jika tidak ada rokok!” dan ungkapan-ungkapan sejenisnya. Demikianlah orang yang diperbudak oleh rokok. Demikianlah orang yang menuhankan rokok. Ia menganggap bahwa rokok adalah sumber yang bisa memberikan ketenangan dan kesenangan baginya. Rokok telah jadi berhala baginya. Sehingga ia lebih rajin dan lebih ridha ‘bersedekah’ demi rokok daripada bersedekah demi mengharap ridha Allah Swt. Orang yang demikian, akan mengalami penderitaan yang disebabkan oleh rokok.

Ada juga orang-orang yang menuhankan organisasinya, partai politiknya, tim sepak bola di kotanya, atau calon kepala daerah idolanya. Bahkan mereka rela meski harus menunjukkan dukungannya dalam bentuk cap jempol darah. Ada lagi yang lebih parah, yaitu mereka yang rela menjadi pasukan berani mati demi mendukung seseorang yang diusungnya.

Tidak sediki manusia yang tertipu dengan dunia. Mereka loyal kepada sesuatu yang sama sekali tidak mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. Maka, berhijrahlah, dari loyalitas kepada sesuatu yang tidak membuat kita dekat dengan Allah Swt, kepada loyalitas terhadap sesuatu yang membawa kita semakin yakin terhadap-Nya. Berhijrahlah dari sikap mengharap pertolongan kepada makhluk, mempercayai mantra, jimat, kepada hanya mengharap pertolongan dari Allah Swt melalui doa. Berhijrahlah dari sikap ingin dipuji dan disanjung oleh manusia, kepada sikap ingin dinilai dan diridhai oleh Allah Swt semata.


Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Selasa, 02 Desember 2014

Panduan KICK MGC 2014

Rabu, 19 November 2014

Bersiaplah Menerima Rahmat dari Langit

hujan tangan

MediaMGC - hujan telah tiba, dan hujan-hujan permulaan yang mulai membasahi beberapa bagian bumi Indonesia ini seharusnya adalah penghilang dahaga setelah kekeringan yang cukup panjang. Tetapi, air hujan yang turun cukup deras atau hujan sedang yang cukup awet seperti menjadi alarm bagi orang tua untuk kemudian memberi peringatan kepada anak-anaknya.

“Awas hujan, nanti kamu sakit.”
“Jangan main hujan-hujanan nak, nanti kamu masuk angin.”
Itu beberapa kalimat yang sering kita dengar kala hujan mengguyur bumi. Entah darimana bahwa hujan adalah pembawa penyakit. Padahal jika ditelusuri dalam Quran dan Sunnah hujan penuh dengan keberkahan dan justru menjadi penyembuh.

Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat diperlukan oleh seluruh makhluk.
“Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura: 28)

Tidak ada yang dapat menurunkan hujan kecuali Allah, meski manusia sering kali mencoba berbagai cara untuk membuat hujan buatan disaat kekeringan tetapi hal tersebut fungsinya hanya untuk memancing agar hujan turun. Tetap, hanya Allah lah yang menurunkan hujan, karena itu hujan adalah anugerah-Nya, rahmat-Nya yang Allah turunkan langsung dari langit. Lalu, kenapa kita menyalahkan rahmat Allah sebagai penyebab penyakit.

Hujan adalah air yang diturunkan dari langit dan penuh keberkahan.
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf: 9)
Dengan hujan, tanaman yang hampir mati bahkan telah kering kembali tumbuh, tanah yang tandus kembali subur, rumput yang menguning kembali hijau.

Air hujan itu mensucikan dan dapat menyembuhkan, sebagaimana dalam surat Al Anfaal: “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu),” (QS. 8:11)

Setan tidak hentinya mengganggu manusia, dan Allah menyuratkan bahwa air hujan dapat menghilangkan gangguan-gangguan setan. Air hujan mensucikan dan menguatkan hati dan juga kaki yang berarti menguatkan tubuh kita. Bahkan Rasulullah SAW pun menyingkapkan bagian tubuhnya yang bukan menjadi aurat ketika turun hujan agar dapat terkena air hujan.

Dengarkan kisah Anas bin Malik radhiallahu anhu berikut ini:
“Anas berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini? Beliau menjawab, “Karena ia baru saja datang dari Tuhannya ta’ala.” (HR. Muslim).

An Nawawi menjelaskan hadits ini, “Maknanya bahwa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah ta’ala. Maka kita ambil keberkahannya. Hadits ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat kami bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap –yang bukan aurat- agar terkena hujan.” (Al Minhaj)

Jadi kenapa harus takut mandi hujan?! Biarkanlah sesekali tubuh kita terkena hujan yang langsung turun dari langit, dan bisa juga mengajak anak-anak kita menikmati air hujan (catatan tentu saat anak dalam kondisi baik, tidak sedang sakit). Tidak usah terlalu banyak berpikir akan akibat hujan, atau takut karena mungkin air hujannya sudah terkena polusi atau takut hujan asam dan lainnya, percaya saja bahwa apa yang dikatakan Allah dalam Al Quran tentu benar karena Al Quran berlaku sepanjang masa.

Seorang teman juga bercerita, ia telah menikah lebih dari 5 tahun dan tak kunjung dikaruniai keturunan, telah berbagai pengobatan dilakukan dari dalam hingga luar negeri tak juga kunjung hamil. Kemudian, ia berkenalan dengan seorang praktisi thibbun nabawi, dan dari serangkaian terapi yang dianjurkannya adalah mandi hujan. Dan Alhamdulillah, tak lama setelah ia mempraktekkan apa yang dianjurkan, ia dapat hamil. Tentunya ini tak lepas dari karunia dan ijin Allah SWT.

Bulan November ini adalah awal-awal musim hujan, ambillah Rahmat-Nya dan Keberkahan-Nya yang diturunkan langsung dari langit saat awal-awal hujan datang. Jangan salahkan hujan yang mengguyur bumi sepanjang hari dan menghambat aktivitas, bersiaplah menerima rahmat dan keberkahan Allah yang langsung turun dari langit.

#islampos

Jumat, 31 Oktober 2014

Para Pencuri Shalat


MediaMGC -  “Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam. (HR. Thabrani & Hakim)
Shalat adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh muslim yang berakal dan telah baligh. Semua Ulama baik salaf maupun khalaf sepakat akan kewajiban shalat dan menghukuminya fardhu ‘ain, kewajiban yang wajib dilakukan oleh tiap-tiap individu. Shalat termasuk rukun Islam yang kedua dan wajib ditegakkan. Sebegitu wajibnya shalat sampai tidak ada rukhsah (keringanan) untuk meninggalkannya bagi seorang muslim. Kalau terlupa/tertidur kita wajib melaksanakan shalat ketika ingat. Jika tidak ada air untuk berwudhu, kita dapat menggantinya dengan tayamum. Menjaga shalat juga merupakan wasiat Rasulullah sebelum meninggal dunia. “Jagalah shalat, jagalah shalat dan hamba sahayamu”

Pencuri Shalat
Di era modern kini dan di tengah ketatnya persaingan dunia, baik dalam hal bisnis, ekonomi, politik dan sosial budaya, semua orang menginginkan hidup serba instan. Semua ingin dijalankan dengan cepat dan instan serta mudah. Tak terkecuali dalam hal ibadah termasuk shalat. Dengan alasan ingin mempersingkat dan mengefektifkan waktu, banyak muslim yang tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat. Hal ini telah diingatkan dengan tegas oleh Rasulullah empat belas abad yang lalu dalam redaksi Thabrani dan Hakim.
“Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam.”

Rasulullah menyebutnya dengan istilah “pencuri yang paling jahat” bagi muslim yang tidak menyempurnakan shalatnya. Tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Kita sering marah ketika ada seseorang yang mencuri sandal kita, terlebih lagi jika kita yang menjadi para pencuri shalat karena tergesa-gesa dan tidak menyempurnakan shalat baik dalam rukuk, sujud maupun salamnya.
Dalam redaksi Ahmad & ath-Thayalisi, Dari Abu Hurairah radhiallahu’ anhu berkata: “Kekasihku Rasulullah sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-noleh seperti musang dan duduk seperti kera.” Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwasanya tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat adalah sebuah kesalahan dalam menjalankan shalat. Siapa saja yang mencuri shalat, maka amal ibadahnya menjadi sia-sia di mata Allah. Lebih dahsyat lagi, orang yang mencuri shalat dianggap tidak beragama, “Kamu melihat orang ini, jika dia mati, maka matinya tidak termasuk mengikuti agama Muhammad SAW, dia menyambar shalatnya seperti burung elang menyambar daging.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Seorang muslim harus menjaga shalatnya, karena memang amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah shalat. Untuk menghindari mencuri dalam shalat, kita perlu mengetahui salah satu rukun dalam shalat yaitu Thuma’ninah.

Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan seperti ketika membaca tasbih (Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 1/124). Dalam bahasa bebasnya, thuma’ninah dapat diartikan slow motion, pelan-pelan, dihayati, dipahami dan dinikmati.

Diriwayatkan, ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid di waktu Rasulullah SAW sedang duduk. Lalu orang itu melaksanakan shalat. Setelah itu ia memberi salam kepada Rasulullah SAW., tetapi Nabi menolaknya seraya bersabda, “Ulangi shalatmu, karena (sesungguhnya) kamu belum shalat!” 
Kemudian lelaki itu mengulangi shalatnya. Setelah itu ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah, tetapi Nabi SAW menolaknya sambil berkata, “Ulangilah shalatmu, (sebenarnya) kamu belum shalat!” Laki-laki itu pun mengulangi shalat untuk ketiga kalinya. Selesai shalat ia kembali memberi salam kepada Nabi SAW. Tetapi lagi-lagi beliau menolaknya, dan bersabda, “Ulangilah shalatmu, sebab kamu itu belum melakukan shalat!”. “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar wahai Rasulullah, Inilah shalatku yang terbaik. Sungguh, aku tak bisa melakukan lebih dari ini, maka ajarkanlah shalat yang baik kepadaku,” tanya lelaki itu. “Apabila kamu berdiri (untuk melakukan) shalat, hendaklah dimulai dengan takbir, lalu membaca ayat-ayat Al Qur’an yang engkau anggap paling mudah, lalu rukuklah dengan tenang, kemudian beri’tidallah dengan tegak, lalu sujudlah dengan tenang dan lakukanlah seperti ini pada shalatmu semuanya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah benar-benar memperhatikan hal ini, sehingga dengan tegas meminta salah seorang sahabat mengulang shalatnya hingga tiga kali karena meninggalkan ketenangan atau thuma’ninah dalam shalat. Apabila meninggalkan thuma’ninah dalam shalat berarti shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah bersabda, “Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (HR. Abu Dawud: 1/ 533)
Semoga kita senantiasa memperbaiki shalat kita, agar tujuan shalat yang tertuang dalam Al Qur’an surat Al-‘Ankabuut ayat 45 benar-benar dapat terwujud. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & mungkar. Wallahu a’lam bis showab.

Senin, 27 Oktober 2014

Tetap Bertahan dalam Indahnya Kebersamaan

 

MediaMGC -   “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
(QS. Al Kahfi: 28)
      Ada satu cerita yang menarik. Alkisah hidup sepasang kakek dan nenek yang sudah sangat sepuh. Suatu ketika tibalah hari milad sang nenek yang ke-69. Seperti biasa, sang kakek menghadiahkan kado ulang tahun kepada sang nenek. Namun, kali ini hadiahnya sungguh surprise. Bukan kado biasa. Kado tersebut berupa batu nisan bertuliskan nama sang nenek beserta tanggal lahirnya. Spontan sang nenek kaget bukan main. “Jadi, kakek mendo’akan nenek cepat mati??”, tanya sang nenek. “Tentu saja tidak, Nek. Supaya kita sama-sama ingat masa depan kita kelak. Bahwa kita berharap selalu bersama di dunia dan akhirat nanti…”, jawab sang kakek sambil tersenyum. 
 
Singkat cerita, tibalah setahun berikutnya di milad sang nenek yang ke-70. Dari pagi sampai malam hari di tanggal tersebut, sang kakek tidak memberikan hadiah kepada sang nenek. Tidak seperti biasanya. Sang nenek akhirnya menanyakan kepada suami terkasihnya, “kok tumben kakek nggak ngasih nenek kado ulang tahun?”. Singkat, sang kakek menjawab: “yang tahun lalu aja belum dipake….”
       Pelajaran yang berharga dari cerita tersebut adalah tentang visi ke depan yang yang dilandasi semangat cinta dan kebersamaan. Dari situlah kita memulai. “Start from the end” kalau kata seorang trainer. Ada dorongan kuat untuk menggapai apa yang ada di masa depan. Begitu pula saat kita menyusuri jalan dakwah ini. Sejak kita mengenal dakwah hingga kini kita masih dan senantiasa memperjuangkannya, maka mari kita tanyakan kembali: “sudahkah kita mengetahui apa tujuan dakwah ini?”
        Setelah kita tahu untuk apa kita berada di jalan dakwah, ternyata tidak cukup sampai di situ. Al Kahfi ayat 28 di atas adalah arahan strategis dari Allah SWT kepada para aktifis dakwah tentang bagaimana seharusnya kita agar tetap tegar di jalan dakwah. Arahan tersebut berupa satu kalimat perintah dan dua kalimat larangan. 
 
      Pertama, perintah untuk bersabar membersamai saudara seperjuangan dalam dakwah. Dalam kondisi apapun dan kapanpun saatnya. Siang ataupun malam. Allah SWT memperjelas detail dimensi waktu dengan diksi “pagi dan senja hari”. Berarti mewakili semua variabel waktu. Karena “pagi” merupakan peralihan dari malam ke siang dan “senja” berarti transisi dari siang ke malam. Tak boleh ada satu waktupun kita meninggalkan pejuang dakwah yang lain ataupun tertinggal dari mereka. Terus bersabar walaupun begitu beragam karakter personal mereka. Karena sekali lagi ini adalah kumpulan manusia, bukan malaikat. Tetap teguhkan hati bergerak bersama mereka, karena kita telah memiliki kesamaan visi hanya ridha Allah saja. Juga tak kalah penting bahwa proyek peradaban ini tidak bisa sekali-kali dikerjakan sendiri. Mekanisme amal jama’i dan qiyadah wal jundiyah mensyaratkan kita untuk tetap bersama dakwah dan jamaah ini. Karena kalau kita tidak bersama mereka, maka kita tidak akan bersama yang lain.
       Kedua, Allah SWT melarang kita terbelokkan arah dari garis perjuangan ini. Kita diperintahkan fokus pada orientasi gerakan dengan segala sarananya. “dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka…”. Juga perintah agar tidak teralihkan kepada orang selain mereka yang punya kepentingan lain di dakwah ini. Tetaplah membersamai ikhwah dalam dakwah. Merekalah sebaik-baik teman. Bukan jamaah dakwah yang membutuhkan kita, namun sejatinya kitalah yang butuh mereka. Ikhwah kitalah yang selalu mengingatkan, menguatkan, dan mengaitkan satu sama lain demi kemasalahatan dakwah. Jangan sampai pula kita berpikir untuk sendirian menyusuri jalan ini. Karena keruhnya berkumpul dalam jamaah dakwah lebih baik daripada kejernihan dalam kesendirian.
    Terakhir, Allah SWT memperingatkan para aktifis dakwah untuk tidak lekang dari dzikir kepada-Nya. Bahwa dalam kebersamaan di jalan dakwah ini juga ada Rabb yang senantiasa membersamai jikalau kita menghadirkan-Nya dalam tilawah dan dzikir-dzikir kita. Senantiasa terlafadzkan asmanya dalam sujud malam dan segala derap langkah perjuangan. Sebagaimana keberlanjutan dakwah, maka keberlangsungan takwa juga termasuk keniscayaan kita dalam bergerak. Sungguh indahnya kebersamaan berlandaskan ketaqwaan. Sebagaimana Allah firmankan dalam Az Zukhruf: 67, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”
      Agar pertemanan kita bertahan lama. Bahkan di hari yang sangat rentan terjadi permusuhan. Agar kebersamaan kita dalam dakwah tidak hanya untuk saat ini. Bukan hanya di dakwah kampus. Kita akan bertemu suatu saat nanti di kerja-kerja dakwah yang lain. Dan kita pun berharap Allah mempertemukan kita di surga-Nya bersama rekan-rekan seperjuangan yang lain disertai Rasulullah SAW, para sahabat, dan orang-orang shalih. Allahumma aammiin…
Jazakumullah khair untuk segala kontribusi terbaik antum. Untuk semua helaan nafas, desah rasa, degup pikir, derap langkah, dan bantingan terbaik yang telah kita lakukan hingga detik ini. Allah SWT pasti memberikan yang terbaik pula. Hal jaza’ul ihsan illal ihsan… Ar Rahman: 60.
 
 
@IslamMedia.Com

21 Tahun...

MediaMGC -  “Masih 20 tahun, masih muda ya, masih panjang. Masih banyak yang harus dikejar”. Celoteh seorang bapak paruh baya tahun lalu saat menanyakan usiaku. Saat menulis ini beberapa hari lagi usiaku genap 21 tahun. Bukan. Bukan bertambah. Itu berarti jatah hidupku telah berkurang lagi setahun dibandingkan tahun lalu.

Tiba-tiba pikiranku melayang entah kemana. Merenungi usiaku saat ini. Apa beruntungnya usia mudaku saat ini? Masih panjangkah jatah hidup yang diberikan Allah padaku? Andai jatah hidupku di dunia ini 63 tahun, seperti jatah usia Rasulullah, dengan usiaku saat ini 21 tahun, berarti usia hidupku tinggal 42 tahun lagi.

Andai jatah hidupku di dunia ini 53 tahun, dengan usiaku saat ini 21 tahun, berarti usia hidupku tinggal 32 tahun lagi. Andai jatah hidupku di dunia ini 43 tahun, dengan usiaku saat ini 21 tahun, berarti usia hidupku tinggal 22 tahun lagi. Andai jatah hidupku di dunia ini 33 tahun, dengan usiaku saat ini 21 tahun, berarti usia hidupku tinggal 12 tahun lagi.

Andai jatah hidupku di dunia ini 23 tahun, dengan usiaku saat ini 21 tahun, berarti usia hidupku tinggal 2 tahun lagi. Bagaimana jika jatah umurku sudah habis dan besok atau lusa Malaikat Ijrail mencabut nyawaku? Duh! Adakah aku masih bisa tenang dengan usia 21 tahun? Atau aku masih bisa santai dan berleha-leha?

Sedangkan Malaikat Ijrail selalu mengintaiku. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang lebih pendek lagi; 42 tahun, 32 tahun, 22 tahun, 12 tahun, 2 tahun atau malah cuma dua hari lagi… Andai selama 21 tahun itu aku tidur selama delapan jam perhari, berarti sepertiga hidupku hanya dipakai untuk tidur, yakni sekitar 7 tahun.

Andai sisa waktuku perhari yang tinggal 16 jam itu kupakai 4 jam untuk bermain-main dengan teman, ngobrol ngalur ngidul, santai dan melakukan hal-hal yang tak berguna, berarti sisa waktuku perhari tinggal 12 jam. Sebab yang 12 jamnya dipakai untuk tidur dan melakukan hal-hal tadi. 12 jam berarti setengah hari. Jika dikalikan 21 tahun, berarti 10,5 tahun (separuh umurku) hanya kupakai untuk tidur dan melakukan hal-hal yang tak berguna.

Dalam usia 21 tahun ini, aku, sudah mulai bekerja efektif pada usia 19 tahun. Berarti aku bekerja sudah 3 tahun. Jika rata-rata aku bekerja 8 jam perhari, berarti aku telah menghabiskan waktuku untuk bekerja 1/3 x 3 tahun = 1 tahun. Artinya, dari 21 tahun itu aku menghabiskan total kira-kira 11,5 tahun hanya untuk tidur dan bekerja mencari dunia: termasuk nongkrong dengan teman, ngobrol ngalor-ngidul, santai, dan mungkin melakukan hal-hal tak berguna.

Lalu aku bandingkan dengan aktivitas ibadahku, juga dakwahku. Andai shalatku yang lima waktu, ditambah shalat-shalat sunnah, memakan waktu total hanya 1,5 jam perhari, berarti aku hanya menghabiskan 547 jam pertahun untuk shalat. Itu berarti hanya 23 hari pertahun. Andai aku benar-benar menunaikan shalat umur 15 tahun (saat tiba baligh), berarti aku baru menghabiskan sekitar 138 hari (= 23×6(21-15)) untuk shalat.

Artinya, selama 21 tahun, aku menunaikan shalat hanya 4 bulan 18 hari! Bagaimana dengan aktivitas dakwahku? Ah, malu rasanya aku. Teringat Mush’ab bin Umair yang di usia 20 tahun menjadi duta untuk membuka dakwah di Madinah. Teringat pula Muhammad Al-Fatih Murad yang menjadi panglima besar dalam Penaklukan Konstatinopel di usia 21 tahun. Atau legenda dakwah modern, Hasan Al-Banna, yang diusianya ke-22 tahun mendirikan pergerakan dakwah bernama Ikhwanul Muslimin. Sedangkan aku?

Masa mudaku habis ditelan kesia-siaan. Jika kesadaran agamaku saja baru muncul diusia 18 tahun dan dakwahku baru kumulai pada usia 20 tahun serta hanya memakan waktu rata-rata 1 jam sehari, berarti aku menghabiskan waktu kira-kira 6 hari untuk berdakwah. Artinya, tak sampai satu minggu aku meluangkan waktuku untuk berdakwah. Tak ada seujung kukunya pun dibandingkan dengan beliau-beliau yang kusebutkan tadi.

Aku teringat dengan firman Allah (yang artinya) :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat : 56)

Saat merenungi kembali ayat itu, hatiku menangis. Betapa tidak. Allah menciptakan hidupku dan memberiku usia 21 tahun sesungguhnya agar aku gunakan untuk beribadah kepada-Nya. Namun kenyataannya, hidupku dan masa mudaku habis untuk tidur dan bekerja mencari dunia, juga melakukan hal yang sia-sia.

Sebaliknya, hanya sebagian kecil usiaku aku habiskan untuk ibadah dan dakwah. Bekerja juga kan termasuk ibadah? Baik. Sekarang bagaimana jika semua itu ternyata tidak bernilai di sisi Allah? Bagaimana jika amal-amal ku ternyata tidak diterima oleh Allah? Bagaimana jika shalatku yang jarang sekali khusyu itu ditolak oleh Allah?

Bagaimana pula jika dakwah ku pun –yang mungkin kadang bercampur dengan riya dan tak jarang minimalis- tak dipandang oleh Allah? Betul. Aku tidak boleh pesimis. Aku harus penuh harap kepada Allah, semoga semua amal-amal ku Dia terima. Namun, aku pun sepantasnya khawatir jika semua amal yang selama ini aku anggap amal shalih dan bernilai pahala, ternyata sebagian besarnya tak bernilai apa-apa di sisi Allah. Na’udzu billah.

Aku memang tidak berharap seperti itu. Di sisi lain, setiap hari, puluhan kali aku bermaksiat. Kalikan saja, misalkan, dengan 6 tahun usiaku (21 tahun dikurangi masa kanak-kanak prabalig). 

Ya Allah, setiap detik karunia dan nikmat-Mu turun kepadaku. Namun setiap detik pula dosa dan kesalahanku naik kepada-Mu.

Ya Allah, Tuhan kami. Selama ini kami hanya menzalimi dan menganiaya diri kami sendiri. Jika saja Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kami, tentu kami termasuk orang-orang yang merugi (Do’a Nabi Adam as).
Tuhanku, tidaklah pantas aku menjadi penghuni Firdaus-Mu. Namun, tak mungkin pula aku kuat menahan panasnya Neraka-Mu. Karena itu, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa dan Engkau Mahabesar. Amin. (Do’a Imam al-Ghazali)
@IslamMedia.Com

Sabtu, 25 Oktober 2014

Ibumu.. Ibumu.. Ibumu..

MediaMGC -  Sayangi Ibu Kita,
Karena Waktu Sibukmu, engkau sering Lupa menanyakan kabarnya,
Karena banyaknya tugas-tugasmu,
terkadang engkau tak menjawab telpon darinya,
karena padatnya acaramu,
engkau sering mengabaikan untuk mengucapkan Salam kepadanya,

Berbahagialah..
Untukmu yang sebelum berangkat Kuliah Selalu meminta doa restunya,
Untukmu yang waktunya selalu ada untuknya,
Untukmu yang selalu mendoakannya,
Untukmu yang menorehkan senyum diwajahnya,
Untukmu yang sholeh wa sholeha,

Tiada Kado Terindah,
Selain Anaknya yang Sukses
Bukan hanya sekedar sukses Dunia,
Melainkan Sukses Akhirat juga,
Sahabat...
setelah membaca tulisan ini,
Mari sejenak kita mendoakan Orang Tua Kita,
Semoga Mereka Sehat dan Bahagia

Aamiin..

Jumat, 24 Oktober 2014

Selamat Tahun Baru 1436 H



MediaMGC - Kami segenap Pengurus MGC 2014-2015
Mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1436 H
Semoga, Ukhuwah kita semakin kuat untuk melanjutkan estafet dakwah 
dibumi pertanian Bengkulu..

MGC... Selalu di hati.. ^^

Kamis, 23 Oktober 2014

Beginilah Jalan Da’wah Mengajarkan Ku..


Gambar



Beginilah Jalan Da’wah Mengajarkan Ku..
Untuk saudara-saudari ku  dijalan dakwah,  catatan ini adalah segores tinta kecil dari perjalanan panjang kita. Agar kita lebih merasakan kesyukuran dan ketundukan kepada Allah Swt atas karunia-Nya kita berada dalam kebersamaan disini.
Berbahagialah dan berbanggalah karena Allah Swt telah memilih antum semua berada dijalan yang mulia ini, insyaALlah. Allah Swt telah mengistimewakan antum semua menerima nikmat berjama’ah dan ini adalah karunia terbaik yang kita terima setelah karunia keimanan kepada Allah Swt.
Karnuia yang tidak kita dapat karena nasab (keturunan), status, harta, maupun ‘ilmu. Namun, ia semata-mata karunia Allah Swt Yang Maha Rahmah, Yang menuntun langkah kita hingga sampai di sini, di jalan ini, hingga detik ini.

Jatuh Bangun Cinta Menikmati Lumpur Dakwah
Tiada selalu benar anggapan sebagian orang yang menyebutkan bahwa hidup di dunia ini adalah misteri. Sebab, kenyataan nya kehidupan ini memiliki alur dan garis kehidupannya masing-masing yang sudah berjalan sepanjang kehidupan itu ada.
Kehidupan ini mempunyai sunnatu al hayah, berupa ketentuan hidup yang ditentukan oleh Allah Swt. Salah satu kepastian hidup ini ialah bahwa keburukan dan kebathilan pasti berakhir pada kesengsaraan dan kehancuran. Sementara, tentu kebaikan, kebajikan serta kebenaran, pasti akan berakhir pada kebahagiaan, kemenangan, dan keabadian. Dua kaidah itu ialah garis kehidupan yang tiada pernah berubah.
Begitulah dengan garis kehidupan yang kami lalui hingga saat ini. Kami menginginkan garis (taqdir) kehidupan ini, membentang hingga titik terakhir kami memperoleh keridhaan-Nya.
Dari dunia inilah kami menjalani jalan setapak demi setapak langkah untuk mencapai kehidupan akhirat yang insyaALlah membahagiakan. Dan pilihan kami jatuh kepada jalan dakwah.  Kami memandang, menempuh hidup dijalan dakwah , adalah perjalanan yang amat sangat mulia, dari jalan inilah kami mendapatkan beragam hikmah, kisah serta pelajaran nan ibrah yang sangat amat begitu berharga yang tiada pernah kami dapatkan sebelumnya dijalan yang lain.
Kami bertemu satu persatu teman, kemudian menjadi sahabat-sahabat seperjuangan yang memberikan arti serta makna yang begitu dalam tentang akan artinya makna sebuah jalinan ukhuwah nan begitu saling menyayangi karena-Nya.
Kembali kepada Bahasan, tentunya seorang juru da’wah  ialah para musafir nan haus ‘ilmu serta hidayah juga ilham, yang mana dijalan dakwah yang membawa misi-misi spesial  kemanapun ia berjalan dimuka bumi ini.
Ia nya seperti pembawa minyak wangi yang berjalan dari dari salah satu ketmpat yang lain, menebarkan aroma yang sedap dihirup. Tiada satu tempat yang dipijaknya, melainkan ia pasti menjajakan sebuah misi mulianya. Maka sudah pasti tentu ada banyak pelajaran yang kami petik dari ragam suasana diperjalan ini, yang penting untuk diurai. Pelajaran yang kami peroleh dari kebersamaan dengan para saudara-saudari dijalan dakwah, Bagaimanapun telah memakan sebagian dari sisa usia kehidupan kami , Dan kami sungguh! Sungguh merasakan kebesaran faidah dan karunia Allah berada dijalan ini.
Meski demikian, catatan saya yang saya tulis ini, jauh lebih sederhana ketimbang catatan yang ditorehkan oleh para guru-guru kami, para ‘ulama dan masyayikh dakwah  yang telah melewati berpuluh tahun berada dijalan dakwah ini.
Catatan ini, mungkin hanya serpihan-serpihan saja dibandingkan pengalaman dakwah yang pernah dituliskan guru-guru dakwah kami. Mereka –rahimahumullah-  orang-orang yang telah memetik jutaan mutiara perjalanan dakwahnya, setelah mereka menyelesaikan puluhan tahun dijalan dakwah ini.
Mereka menikmati kemilau hikmah jalan dakwah ini setelah berpeluh keringat, air mata dan mungkin darah dijalan ini. Maka, siapapun yang membaca torehan tinta mereka, akan memunculkan suasan hati yang luar biasa menggambarkan perjalan dakwah dan pengorbanan mereka.
Untuk saudara-saudari kami dijalan dakwah, catatan ini ialah catatan kecil dari perjalanan panjang kita. Agar kita lebih merasakan kesyukuran dan ketundukan kepada Allah Swt atas karunia-Nya kita berada dalam kebersamaan disini.
Berbahagialah dan berbanggalah karena Allah Swt telah memilih kita berada dijalan dakwah ini. Allah Swt telah mengistimewakan antum semua menerima nikmat berjama;ah dan ini adalahkarunia terbaik yang kita terima setelah karunia keimanan kepada Allah Swt.
Karunia yang tidak kita dapat karena nasab, status, harta, maupun ‘ilmu. Tapi ia semata-mata karunia Allah Swt Yang Maha Rahmah , Yang menuntun langkah kita hingga sampai disini, dijalan ini, pada detik ini. Allah Swt berfirman;
“ Dan ami telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatka kamu daripadanya” (QS Ali Imran; 103)
Nikmat ini tidak boleh direndahkan, diremehkan apalagi dipermainkan> Kita harus menjaga dan memelihara nikmat yang teramat agung ini. Dan kita wajib merasa khawatir andai nikmat itu hilang.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat di sisi Engkau, karena sesungguhnya engkau lah Maha Pemberi (karunia)” (QS Ali Imran;08)

Semuanya Pasti Mengalami Kekurangan

MGC - Semua akan mengalami kekurangan

Mata ini akan mulai berkurang nikmat menglihatnya...
Telinga ini akan mulai berkurang nikmat pendengarannya...
Kesehatan ini.. akan mengalami kekurangan sehatnya..
Raga ini.. akan mengalami sedikit demi sedi
kit kekurangan...
Maka manfaatkanlah kesempatanmu saat ini.. Sahabat..

Fadillah Hari Jumat



    
    HARI Jumat, tak pelak, merupakan hari yang sangat istimewa dalam Islam. Itu sudah kita ketahui bersama. Ada banyak hal yang disebutkan hadist dalam hari Jumat ini. Apa saja? Berikut hadist-hadist yang menyebutkan kelebihan hari Jumat.

         Dari Abu Hurairah katanya, Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda, maksudnya: “Sebaik-baik hari yang terbit matahari ialah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu juga dia dikeluarkan dari syurga. Pada Jum’at juga kiamat akan berlaku. Pada hari itu tidaklah seorang yang beriman meminta sesuatu daripada Allah melainkan akan dikabulkan permintaannya.” [HR Muslim]

          Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari Jum‘at adalah penghulu segala hari dan hari yang paling besar di sisi Allah Subhanhu wa Ta ‘ala yaitu hari yang lebih besar daripada hari raya Adha dan hari raya Fitrah, pada hari Jum‘at itu terdapat lima kejadian yaitu hari yang dijadikan Adam ‘alaihissalam dan Baginda di turunkan daripada syurga ke muka bumi, dan pada hari itu juga wafatnya Adam ‘alaihissalam, dan Allah mengurniakan satu saat di mana do’a-do’a dikabulkan kecuali do’a-do’a maksiat, dan hari Jum‘at juga akan terjadinya hari Kiamat.” [HR Ibnu Majah]
           Rasulullah sallallahu.’alaihi.wasallam bersabda, “Sesungguhnya harimu yang paling utama adalah hari Jum’at. Maka perbanyakkanlah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawatmu ditunjukkan kepadaku. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami ditunjukkan kepadamu sedangkan tubuhmu telah hancur? Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam menjawab: Sesungguhnya Allah mengharamkan tubuh para Nabi bagi bumi (tidak hancur).” [HR Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah]
         Rasulullah bersabda maksudnya : “Barang siapa yang berwudhu dan kemudian dia pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah dibacakan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jum’at itu dan hari Jum’at berikutnya.” [HR Muslim]
        Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Pada hari Jum’at terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba Muslim memohon sesuatu kepada Allah melainkan Allah akan mengabulkannya. Carilah ia di akhir waktu selepas asar.” [HR Abu Daud]
          Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang Muslim itu meninggal dunia pada hari jum’at atau pada malam Jum’at melainkan Allah menyelamatkannya dari fitnah kubur (soalan di dalam kubur).” [HR At-Tirmizi]
         Rasulullah sallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan, semuanya adalah penghapus dosa-dosa di antara kedua-duanya selagi mana dijauhi dosa-dosa besar.” [HR Muslim]

Rabu, 15 Oktober 2014

Kabar Duka

Assalamu'alaikum. Wr. Wb.
INALILAHI WA INAILAIHIIROJI'UN
Telah berpulangnya ke rahmatullah ibunda dari saudara kita Sefri Yanda peternakan angkatan 2013. Meninggal tadi malam ± jam 10.00 di Kerinci Jambi. Semoga, beliau ditempatkan di sisi Allah Syurga yang paling indah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, kelapang dadaan.
Wassalamu'alaikum. Wr. Wb.

Selasa, 14 Oktober 2014

Sudahkah Kita Membaca Quran Hari ini?

MGC - Membaca Al-Quran Adalah Kewajiban Setiap Muslim dan Muslimah 
(Ketua Umum MGC Faperta Universitas Bengkulu)
2013-2014

Minggu, 12 Oktober 2014

TENTANG KITA, HUJAN DAN LAGU

                                     MGC - TENTANG KITA, HUJAN DAN LAGU
                                                                 By: Fadillah Rahmika


Kafe ini penuh sesak. Lampu-lampu kecil berwarna biru itu menerangi setiap sisi ruang kafe. Namun, menurutku itu lebih untuk menambah kesan romantis. Ornamen unik berbentuk ranting kayu yang diberi lampu-lampu kecil warna warni berdiri tegap disamping panggung music. Menemani seorang gadis muda pemain piano. Tak ketinggalan pula lilin kecil disetiap meja. Kafe ini benar-benar menyuguhkan suasana romantis.  
Aku mengalihkan pandangan keluar jendela. Tampak jelas guyuran hujan yang semakin deras. Aku mendesah. Pasrah ditengah ketidakpastian. Yuki. Wanita yang telah mencuri sesuatu dari hatiku itu berjanji akan kembali jika musim hujan tiba. Tapi 3 bulan sudah sejak pertama kali musim hujan tiba, ia tak jua menepati janjinya.
“Apa kau lupa janjimu, Yuki?” tanyaku dalam hati. “Rinduku terus menumpuk bersama tetesan hujan yang membasahi hariku. Aku rindu. Kumohon kembalilah…”
It’s you who makes my life so colourful
It’s you yes it’s you that I adore
It’s you who makes my life so comfort
Lagu itu..
Aku terdiam. Terpana. Dan.. aku terluka!
Dengan tubuh yang bergetar, ku tatap gadis pemain piano yang begitu syahdu menyanyikan lagu YOU dari MOCCA.  Sentuhan lembut tangannya memainkan piano semakin membuatku merinding.
Tuhan.. Itu lagu kesukaan aku dan Yuki. Kami sering menyanyikannya berdua di pantai diwaktu senja sambil menikmati matahari terbenam. Tapi kenapa pula gadis itu memainkannya dikala hujan seperti ini?? Apa jangan-jangan dia tahu apa yang kurasa? Ah. Tentu tidak. Dia bukan peramal yang mengetahui isi hati seseorang. Ia hanya gadis biasa yang mencari pekerjaan  sampingan sejak 2 minggu lalu. Begitu cerita yang kudengar dari pemilik kafe ini, yang kebetulan adalah temanku. Tapi, tetap saja gadis itu membuatku terluka akan kenangan bersama Yuki.
Nobody has
No one can make my dreams come true
Cause no one can compare to you, yes it’s you
Your love makes my wishes come true
Dan tiba-tiba aku benci lagu itu. Aku benci hujan. Dan aku benci gadis itu!!
 “Cukup. Cukup. Hentikan! Kau merobek jiwaku! Ku mohon hentikan!” aku meronta dalam diam sambil menutup kupingku. Serasa ada beribu-ribu anak panah yang menghujam tubuhku. Tak lama aku mendengar suara riuh tepuk tangan pengunjung kafe.
“Terimakasih” kulihat gadis itu bangkit dan membungkukkan badan kearah penonton.
Sial. Kau terlihat bahagia sekali heh. Apa kau tak sadar ada yang terluka saat kau menyanyikan lagu itu? Gerutukku dalam hati.
Dengan penuh kebencian, ku amati gadis yang dari tadi terus tersenyum kearah penonton. Kemudian ia berlalu, seperti ingin meninggalkan kafe ini. aku sudah menampung semua kekesalanku dan akan ku luapkan kepada gadis itu. Ia berjalan melewati mejaku. Tak menunggu lama, aku langsung menyusul langkahnya dari belakang. Diluar kafe kulihat ia meraih handphonenya yang berdering. Tanpa berdosa, aku menguping pembicaraannya sambil pura-pura menikmati hujan.
“Halo Ma, ada apa lagi?” gadis itu bicara sedikit ketus. Aku semakin penasaran. Kupasang kupingku tajam-tajam. “Sudah berapa kali Rana bilang, Rana gak suka sama Tio, Ma..” gadis memelas. Oh, Rana namanya. Tapi siapa pula Tio? Ah bodoh amat. Aku melangkah mendekatinya untuk siap-siap melabrak gadis itu. Tapi langkahku terhenti, ketika kulihat gadis itu menangis sambil menutup pembicaraanya tadi. Ketika ia berbalik, mata kami bertubrukan. Aku tersentak. Cepat-cepat kualihkan pandangan kearah lain. Dan ia cepat-cepat menghapus air matanya.
“Ada perlu apa?” tanya gadis itu datar ketika menyadari bahwa aku memperhatikannya. Aku gugup. Dan tiba-tiba saja kalimat keluar dari mulutku.
“Kau menangis?”. Ya ampun! Kenapa aku bertanya seperti itu. Aku mengutuk diriku sendiri. Kulihat gadis itu tersenyum sinis sambil berlalu menembus hujan yang masih deras. Aku terpaku. Menatapnya sampai payung biru yang menemani gadis itu menghilang dipersimpangan jalan. Ntah kenapa gadis itu menjadi misterius bagiku. Besok-besok aku akan mengunggunya lagi disini.
***
Ternyata besok dan hari seterusnya, aku dan Rana semakin dekat. Tak disangka, kami akan menjadi teman ngobrol yang asik. Setelah sebelumnya aku minta maaf atas apa yang terjadi diteras kafe sore itu, ketika aku akan melabraknya. Rana, ternyata gadis yang cepat nyambung utuk diajak bicara. Tapi tetap saja, aku dan Rana belum menceritakan pribadi masing-masing. Kami terkadang  hanya membicarakan hal-hal biasa dan lagu, tentunya.
Dari tempat dudukku di dekat jendela, tempat biasa aku menunggu Yuki, aku memandang Rana yang sedang bernyanyi. Terlihat ekspresi wajahnya yang sangat menghayati lagu. Kali ini ia menyanyikan lagu baru, lagu My Immortal yang dibawakan oleh Evanescence. Dan aku suka.
I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone
But though you’re still with me
I’ve been alone all along
Ia tersenyum padaku setelah menyanyikan lagu itu. Ku lambaikan tanganku, sebagai isyarat bahwa aku menginginkannya duduk disini.
“Sudah lama?” tanya Rana sambil duduk dihadapanku.
“Belum, ketika kau bernyanyi tadi aku baru sampai. Kerjaan dikantor buatku pusing.” Rana tertawa renyah. Ini adalah tawanya yang kesekian kali sejak aku mengenalnya. Diam-diam aku bersyukur, bisa menjadi laki-laki yang beruntung karena bisa melihat tawa dan senyum Rana yang sungguh memikat. “Permainanmu di pangggung sangat bagus. Kenapa kau tak bekerja pada perusahaan yang lebih besar? Aku yakin mereka akan tertarik sekali padamu.” lagi-lagi Rana hanya tersenyum.
“Aku bernyanyi dan bermain piano bukan untuk mencari uang Co. Begini-begini aku anak orang kaya loh..” ujarnya bercanda diiringi tawa. Aku ikut tertawa melihat tingkahnya yang kadang aneh.
“Lalu, apa yang kau cari?” tanyaku serius. Rana membisu dengan air muka yang berubah keruh. Aku mengerti. “Tak usah dijawab Rana..”
Terdengar helaaan nafasnya yang berat. Ia menatap keluar jendela.
“Hujan lagi..” suaranya hampir tak terdengar. Aku ikut melihat keluar. Dari tadi memang hujan. Sudah memasuki akhir tahun, sebentar lagi musim hujan akan berakhir. Dan itu artinya harapanku kepada Yuki kian menipis, namun rinduku padanya kian memuncak.
Sesaat kemudian, tanpa diminta Rana menceritakan masa lalunya.
“Dari kecil, aku sudah mengikuti les piano dan vocal. Itu semua adalah dorongan Papa yang sangat ambisius menjadikanku seorang pianis sekaligus penyanyi handal. Bukan terkenal. Alasannya simpel. Ia suka mendengar suara piano, apalagi jika itu aku yang memainkannya.” Ia terdiam sebentar. Aku menunggu.
“Suatu sore, ditengah hujan deras, sekitar 3 tahun lalu. Papa mengajakku ke kafe ini dan memintaku memainkan piano dan menyanyikan lagu You dari Mocca.” ketika Rana mengucapkan kata terakhirnya, aku sedikit kaget. Namun aku tetap membiarkannya bercerita. “Saat itu, papa duduk dikursi ini sambil terus melihatku dengan senyumannya yang indah sekali. dilagu-lagu terakhir yang kunyanyikan, papa keluar dari kafe. Ku pikir papa lagi menerima telfon, tapi ternyata tidak. Dan sejak saat itu aku tak pernah melihat papa. Senyumnya, kasih sayangnya, bentakannya yang konyol itu membuatku tersiksa, Co. Aku seperti kehilangan setengah jiwaku. Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Kenapa papa meninggalkanku tanpa memberikan alasana apapun. Aku tanya mama, tapi perempuan itu hanya diam dan diam. Aku capek mencari papa kemana-mana. Sedangkan mama, wanita itu gak mau tau. Aku tak tau apa yang terjadi diantara mereka. Itu bukan urusanku. Aku hanya ingin papa kembali. Tapi beberapa bulan belakangan aku sadar, papa tak benar-benar meninggalkanku.”
“Kau bertemu papamu?” tanyaku dengan penasaran. Dan lagi-lagi ia hanya tersenyum sambil menggeleng kepalanya. Aku menyeritkan kening. “Lalu?”
“Lagu yang kunyanyikan dihari terakhir melihat papa ternyata mengisyaratkan bahwa aku adalah orang yang paling papa sayangi, aku adalah pelangi dalam hidupnya. Jadi aku yakin, papa tak benar-benar meninggalkanku. Mungkin secara nyatanya ia, tapi aku merasa papa selalu ada didekatku. Itulah sebabnya aku bekerja disini. Aku takut melupakannya jika aku tak mengenang hari terakhir bersamanya.” Rana mengakhiri ceritanya. Aku masih terpaku mendengar ceritanya yang menurutku hampir sama dengan apa yang ku alami dulu.
“Hei! Melamun aja.” teriak Rana pelan sambil mencubit lenganku.
“Eh, nggak kok.” jawabku tersadar.
“Kamu sendiri?”
“Aku?”
“Iya. Katanya kamu juga suka sekali dengan lagu itu. Kenapa?”
“Siapa bilang? Aku benci lagu itu!” jawabku ketus.
“Jangan bohong. Kau memang pernah berkata padaku sempat membenci lagu itu. Tapi kemudian kau menyukainya lagi. Kenapa?”
Aku menerawang kemasa lalu. Saat-saat bahagia bersama Yuki.
“Aku lagi menunggu seseorang.”
“Lalu..??” tanya Rana bingung sambil mengerutkan kening.
“Namanya Yuki. Dia suka lagu itu. Aku juga. Kami sering menyanyikannya ketika matahari terbenam di pantai. Suatu hari sekitar setahun yang lalu, Yuki pergi dengan hanya mengatakan bahwa ia akan kembali jika musim hujan tiba. Disini. Hampir 4 bulan sejak musim hujan turun yang pertama kalinya, aku menunggu kehadirannya.”
“Kau sangat mencintainya?”
“Ntahlah. Kadang cinta ini membuatku benci pada semuanya.”
“Apa kau merasa tersakiti ketika aku menyanyikan lagu itu?”
“Sakit. Sungguh sakit Rana…” ujarku dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat pipi Rana basah. Aku menyesal telah mengatakan itu. “Maaf Rana… bukannya aku..”
“Tak pa Co”, jawabnya, memotong ucapanku yang belum selesai. “Aku juga sangat sakit jika menyanyikan lagu itu. Tapi hanya itu yang bisa membuatku tetap ingat dengan papa, Co..” air mata kian membanjiri wajah manisnya. Tiba-tiba aku merasa seperti ada sesuatu yang menyengat dihati ini. Cepat-cepat aku menetralkannya dengan coffelate yang kupesan dari tadi.
***
Seperti biasa sepulang dari kantor, aku langsung meluncur ke kafe. Menunggu kekasih kembali. Benarkah? Apakah Yuki masih menjadi alasanku ke kafe ini, setelah musim hujan berakhir tahun lalu dan akan segera datang kembali esok hari? Ntahlah. Sujujurnya aku masih mencintai Yuki. Tapi Rana,,, gadis itu bagaikan pelangi setelah hujan. Rana memberiku harapan baru. Kami memang tak pernah mengungkapkan perasaaan masing-masing, tapi dari tingkah kami selama hampir lebih dari 7 bulan ini cukup membuktikan bahwa kami berdua saling membutuhkan.
Aku sampai di kafe dan segera duduk ditempat biasa. Tapi hari ini ada yang spesial. Rana akan menyanyikan sebuah lagu untukku. Dari kejauhan, kulihat Rana sangat cantik. Ia tersenyum kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman pula. Hatiku semaki berdebar-debar.
“Lagu ini, khusus untuk dia yang punya lagu kenangan sama denganku..” ujar Rana sambil menatapku dengan manis. Rana mulai memainkan pianonya dengan sangat lembut. Lagu Only You dari Mandy Moore dinyanyikannya dengan penuh penghayatan.
There’s a song that inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold, but you sing to me over
And over and over again
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray to be only yours
I pray to be only yours
Wajahku memerah. Aku terpana. Dan terhanyut dalam senandung itu.
“Dicoo..” aku merasa mendengar ada yang memanggil namaku, reflek ku toleh kepalaku kearah suara. Yuki! Wanita yang sudah lama aku tunggu itu berlari kearahku. Aku terperanjat melihatnya. Ia langsung memelukku. Tapi dengan reflek pula aku meronta, melepaskan pelukkannya. Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Dico, ini aku, Yuki.” ujar wanita itu dengan nada merengek. Kulihat Rana menatap kami dari panggung. Langsung kutarik tangan Yuki ke luar kafe.
“Lalu.” jawabku datar setelah kami berada diluar.
“Maksudmu..”
“Untuk apa kau kembali Yuki..” tanyaku dengan suara bergetar. Yuki kaget. “Kau tau Yuki, aku seperti sekarat menunggumu disini selama musim hujan tahun lalu. Kau mengingkari janjimu. Aku benci harus berjuang dalam ketidakpastian. Sekarang bagiku semua kenangan kita telah habis bersama habisnya musim hujan yang lalu. Pergilah..”
“Kau bohong Dico!! Kau bohong!” teriak Yuki sambil memukul lenganku. “Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku tahu itu dari matamu Dico. Apa kau lupa, aku sudah 8 tahun bersamamu. Aku tahu kau bohong atau kau jujur! Aku tahu Dico..!!”
Deg. Jantungku seperti berhenti. Sejujurnya ingin sekali ku katanya, bahwa apa yang dikatakannya semua itu adalah benar. Aku bisa saja membohongi diriku sendiri, tapi tidak dengan Yuki. Wanita ini telah bertahun-tahun menghabiskan waktu denganku. Tapi apa gunanya?? Semua telah terlambat.
Rana menghampiri kami. Tapi sebelum ini mendekat, aku sudah mengisyaratkan padanya untuk tidak mendekat. Rana paham. Ia hanya mematung dipintu kafe. Aku bingung harus bagaimana menjelaskan kepada 2 wanita yang sama-sama kucintai. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari, menerobos hujan tanpa tau kearah mana. Aku hanya ingin berlari dan berlari. Mungkin hanya untuk melepas rindu pada Yuki dan mungkin juga mencoba bertanya pada hujan bagaimana caranya melepaskan cinta yang terpendam untuk Rana. Atau  mungkin, meminta hujan untuk tak lagi datang agar aku tak pernah kehilangan.


sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com