MediaMGC _ Allah Swt berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).
Hal paling prinsipil yang harus kita lakukan adalah berhijrah dari
perbuatan kemusyrikan kepada tauhid. Hijrah dari menuhankan manusia
kepada hanya menuhankan Allah semata, Dzat Yang Menciptakan manusia.
Hijrah dari menuhankan harta kekayaan kepada hanya menuhankan Allah Swt
semata Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki. Hijrah dari sikap
menuhankan jabatan dan kedudukan kepada hanya menuhankan Allah Swt Yang
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dialah Allah yang memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, dan Dialah Allah yang mencabut kekuasaan dari siapa
saja yang dikehendaki oleh-Nya. Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran [3]: 26).
Bukan manusia, bukan pula harta. Bukan jabatan, kedudukan, bukan pula
kekuasaan. Hanya Allah Swt satu-satunya yang patut dipertuhankan.
Dialah Sang Pemilik segalanya dan Dialah pula yang memberikan rezeki dan
kekuasaan serta mencabutnya dari manusia.
Tidak sedikit manusia yang berpikir bahwa gelar akan bisa
menyelamatkannya. Gelar akan memberikan rezeki kepadanya. Gelar akan
memberikan kedudukan untuknya. Gelar pula yang akan memberikan
kebahagiaan kepadanya. Jika gelar sudah dipertuhankan oleh seseorang,
maka dijamin hidupnya tidak akan tentram. Ia tidak akan memperoleh
kesuksesan yang hakiki.
Gelar memang boleh disandang. Gelar juga baik untuk dimiliki. Namun,
apabila gelar sudah dipandang sebagai sumber kemuliaan, sumber
kesuksesan, sumber kebahagiaan, sumber kesejahteraan, ini adalah sikap
yang keliru. Bagi seorang muslim, sesungguhnya tidak ada kemuliaan
kecuali bersumber dari Allah. Tidak ada kesuksesan kecuali bersumber
dari Allah. Tidak ada kesejahteraan kecuali datang dari Allah. Seorang
muslim selalu meyakini bahwa dunia hanyalah fasilitas saja. Segala
fasilitas di dunia ini adalah untuk dipergunakan dalam rangka beribadah
kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman, “Dia-lah Allah, yang menjadikan
segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan)
langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (QS. Al Baqarah [2]: 29).
Jelaslah bahwasanya Allah Swt menciptakan dunia dan seisinya adalah
sebagai sarana untuk manusia. Atau sebagai pelayan untuk manusia. Sarana
atau pelayan ini adalah untuk dipergunakan oleh manusia sebagai
penunjang beribadah kepada Allah Swt.
Demikianlah susunan yang semestinya. Manusialah sang majikan
sedangkan kekayaan duniawi adalah sarana dan pelayannya. Jangan sampai
jadi terbalik, majikan diperbudak oleh sarana dan pelayannya. Jika ini
terjadi, maka sungguh menjadi sangat hina dan rendahlah derajat sang
majikan. Jika manusia diperbudak oleh hal-hal duniawi, maka menjadi
rendah dan hinalah ia.
Bukti bahwa dunia dan seisinya ini hanya sarana dan pelayan saja
adalah bahwa makanan hadir untuk menutupi rasa lapar. Pakaian hadir
untuk melindungi tubuh dari cuaca. Obat-obatan hadir untuk memulihkan
rasa sakit. Akan tetapi ketika manusia menuhankan dunia, maka
kebahagiaan tak bisa diraihnya. Tidak heran jika kita banyak menemukan
orang-orang yang kaya raya namun hidup di dalam kegelisahan dan tidak
berbahagia.
Sesungguhnya dunia ini tiada berharga. Oleh karena itulah mengapa tak
hanya orang-orang beriman, bahkan orang-orang pelaku kemaksiatan,
dzalim, bergelimang dosa, dan pelaku kemusyrikan pun diberikan hal-hal
duniawi. Yaitu seperti harta kekayaan, jabatan, gelar, pangkat, dan
popularitas.
Satu contoh. Seorang isteri shalehah yang ditinggalkan oleh suaminya untuk selama-lamanya. Sang ibu tersebut ditanya, “Bu, bagaimana selanjutnya, suami ibu meninggal dunia. Bagaimana dengan nafkah keluarga?” Kemudian, ibu tersebut menjawab, “Suami
saya memang sudah tiada. Allah Swt Sang pemilik manusia, telah
memanggilnya. Bukankan setiap kita juga akan kembali kepada-Nya. Adapun
rezeki saya, bukanlah bersumber dari suami saya. Suami saya hanya
perantara saja. Rezeki sesungguhnya bersumber dari Allah Swt. Suami saya
memang telah tiada. Tapi, Allah Maha Ada dan akan selalu ada.”
Subhanallah! Simaklah ucapan ibu tersebut. Demikianlah sikap
orang yang tidak mempertuhankan dunia. Ia akan tetap berpegang teguh
kepada Allah di dalam situasi seberat apapun. Dia selalu yakin bahwa
semakin berat keadaan yang menimpanya, maka semakin kuat ia berpegang
kepada Allah Swt. Semakin sulit keadaan yang menimpanya, semakin kuat
pula ia berdoa kepada-Nya. Semakin yakin bahwa hanya Allah Swt yang
kuasa menolongnya.
Contoh lain, orang yang pecandu rokok. Mungkin kita sudah tidak asing lagi mendengar celetukan orang yang berbunyi, “Saya tidak bisa tenang kalau tak merokok!” atau, “Saya tak bisa kerja jika tidak ada rokok!” dan
ungkapan-ungkapan sejenisnya. Demikianlah orang yang diperbudak oleh
rokok. Demikianlah orang yang menuhankan rokok. Ia menganggap bahwa
rokok adalah sumber yang bisa memberikan ketenangan dan kesenangan
baginya. Rokok telah jadi berhala baginya. Sehingga ia lebih rajin dan
lebih ridha ‘bersedekah’ demi rokok daripada bersedekah demi mengharap
ridha Allah Swt. Orang yang demikian, akan mengalami penderitaan yang
disebabkan oleh rokok.
Ada juga orang-orang yang menuhankan organisasinya, partai
politiknya, tim sepak bola di kotanya, atau calon kepala daerah
idolanya. Bahkan mereka rela meski harus menunjukkan dukungannya dalam
bentuk cap jempol darah. Ada lagi yang lebih parah, yaitu mereka yang
rela menjadi pasukan berani mati demi mendukung seseorang yang
diusungnya.
Tidak sediki manusia yang tertipu dengan dunia. Mereka loyal kepada
sesuatu yang sama sekali tidak mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.
Maka, berhijrahlah, dari loyalitas kepada sesuatu yang tidak membuat
kita dekat dengan Allah Swt, kepada loyalitas terhadap sesuatu yang
membawa kita semakin yakin terhadap-Nya. Berhijrahlah
dari sikap mengharap pertolongan kepada makhluk, mempercayai mantra,
jimat, kepada hanya mengharap pertolongan dari Allah Swt melalui doa.
Berhijrahlah dari sikap ingin dipuji dan disanjung oleh manusia, kepada
sikap ingin dinilai dan diridhai oleh Allah Swt semata.
Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.
Ahlan Wa Sahlan
Senin, 15 Desember 2014






0 komentar:
Posting Komentar