MGC - TENTANG KITA, HUJAN DAN LAGU
By: Fadillah Rahmika
Kafe ini penuh
sesak. Lampu-lampu kecil berwarna biru itu menerangi setiap sisi ruang kafe.
Namun, menurutku itu lebih untuk menambah kesan romantis. Ornamen unik
berbentuk ranting kayu yang diberi lampu-lampu kecil warna warni berdiri tegap
disamping panggung music. Menemani seorang gadis muda pemain piano. Tak
ketinggalan pula lilin kecil disetiap meja. Kafe ini benar-benar menyuguhkan
suasana romantis.
Aku mengalihkan
pandangan keluar jendela. Tampak jelas guyuran hujan yang semakin deras. Aku
mendesah. Pasrah ditengah ketidakpastian. Yuki. Wanita yang telah mencuri
sesuatu dari hatiku itu berjanji akan kembali jika musim hujan tiba. Tapi 3
bulan sudah sejak pertama kali musim hujan tiba, ia tak jua menepati janjinya.
“Apa kau lupa
janjimu, Yuki?” tanyaku dalam hati. “Rinduku terus menumpuk bersama tetesan
hujan yang membasahi hariku. Aku rindu. Kumohon kembalilah…”
It’s you who makes my life so colourful
It’s you yes it’s you that I adore
It’s you who makes my life so comfort
Lagu itu..
Aku terdiam.
Terpana. Dan.. aku terluka!
Dengan tubuh
yang bergetar, ku tatap gadis pemain piano yang begitu syahdu menyanyikan lagu
YOU dari MOCCA. Sentuhan lembut
tangannya memainkan piano semakin membuatku merinding.
Tuhan.. Itu lagu
kesukaan aku dan Yuki. Kami sering menyanyikannya berdua di pantai diwaktu
senja sambil menikmati matahari terbenam. Tapi kenapa pula gadis itu
memainkannya dikala hujan seperti ini?? Apa jangan-jangan dia tahu apa yang
kurasa? Ah. Tentu tidak. Dia bukan peramal yang mengetahui isi hati seseorang.
Ia hanya gadis biasa yang mencari pekerjaan
sampingan sejak 2 minggu lalu. Begitu cerita yang kudengar dari pemilik
kafe ini, yang kebetulan adalah temanku. Tapi, tetap saja gadis itu membuatku
terluka akan kenangan bersama Yuki.
Nobody has
No one can make my dreams come true
Cause no one can compare to you, yes it’s you
Your love makes my wishes come true
Dan tiba-tiba
aku benci lagu itu. Aku benci hujan. Dan aku benci gadis itu!!
“Cukup. Cukup. Hentikan! Kau merobek jiwaku!
Ku mohon hentikan!” aku meronta dalam diam sambil menutup kupingku. Serasa ada
beribu-ribu anak panah yang menghujam tubuhku. Tak lama aku mendengar suara
riuh tepuk tangan pengunjung kafe.
“Terimakasih”
kulihat gadis itu bangkit dan membungkukkan badan kearah penonton.
Sial. Kau
terlihat bahagia sekali heh. Apa kau tak sadar ada yang terluka saat kau
menyanyikan lagu itu? Gerutukku dalam hati.
Dengan penuh
kebencian, ku amati gadis yang dari tadi terus tersenyum kearah penonton.
Kemudian ia berlalu, seperti ingin meninggalkan kafe ini. aku sudah menampung
semua kekesalanku dan akan ku luapkan kepada gadis itu. Ia berjalan melewati
mejaku. Tak menunggu lama, aku langsung menyusul langkahnya dari belakang.
Diluar kafe kulihat ia meraih handphonenya
yang berdering. Tanpa berdosa, aku menguping pembicaraannya sambil pura-pura
menikmati hujan.
“Halo Ma, ada
apa lagi?” gadis itu bicara sedikit ketus. Aku semakin penasaran. Kupasang
kupingku tajam-tajam. “Sudah berapa kali Rana bilang, Rana gak suka sama Tio,
Ma..” gadis memelas. Oh, Rana namanya. Tapi siapa pula Tio? Ah bodoh amat. Aku
melangkah mendekatinya untuk siap-siap melabrak gadis itu. Tapi langkahku
terhenti, ketika kulihat gadis itu menangis sambil menutup pembicaraanya tadi.
Ketika ia berbalik, mata kami bertubrukan. Aku tersentak. Cepat-cepat kualihkan
pandangan kearah lain. Dan ia cepat-cepat menghapus air matanya.
“Ada perlu apa?”
tanya gadis itu datar ketika menyadari bahwa aku memperhatikannya. Aku gugup.
Dan tiba-tiba saja kalimat keluar dari mulutku.
“Kau menangis?”.
Ya ampun! Kenapa aku bertanya seperti itu. Aku mengutuk diriku sendiri. Kulihat
gadis itu tersenyum sinis sambil berlalu menembus hujan yang masih deras. Aku terpaku.
Menatapnya sampai payung biru yang menemani gadis itu menghilang dipersimpangan
jalan. Ntah kenapa gadis itu menjadi misterius bagiku. Besok-besok aku akan
mengunggunya lagi disini.
***
Ternyata besok
dan hari seterusnya, aku dan Rana semakin dekat. Tak disangka, kami akan
menjadi teman ngobrol yang asik. Setelah sebelumnya aku minta maaf atas apa
yang terjadi diteras kafe sore itu, ketika aku akan melabraknya. Rana, ternyata
gadis yang cepat nyambung utuk diajak bicara. Tapi tetap saja, aku dan Rana
belum menceritakan pribadi masing-masing. Kami terkadang hanya membicarakan hal-hal biasa dan lagu,
tentunya.
Dari tempat
dudukku di dekat jendela, tempat biasa aku menunggu Yuki, aku memandang Rana
yang sedang bernyanyi. Terlihat ekspresi wajahnya yang sangat menghayati lagu. Kali
ini ia menyanyikan lagu baru, lagu My
Immortal yang dibawakan oleh Evanescence. Dan aku suka.
I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone
But though you’re still with me
I’ve been alone all along
Ia tersenyum
padaku setelah menyanyikan lagu itu. Ku lambaikan tanganku, sebagai isyarat
bahwa aku menginginkannya duduk disini.
“Sudah lama?” tanya
Rana sambil duduk dihadapanku.
“Belum, ketika
kau bernyanyi tadi aku baru sampai. Kerjaan dikantor buatku pusing.” Rana
tertawa renyah. Ini adalah tawanya yang kesekian kali sejak aku mengenalnya.
Diam-diam aku bersyukur, bisa menjadi laki-laki yang beruntung karena bisa
melihat tawa dan senyum Rana yang sungguh memikat. “Permainanmu di pangggung
sangat bagus. Kenapa kau tak bekerja pada perusahaan yang lebih besar? Aku
yakin mereka akan tertarik sekali padamu.” lagi-lagi Rana hanya tersenyum.
“Aku bernyanyi
dan bermain piano bukan untuk mencari uang Co. Begini-begini aku anak orang
kaya loh..” ujarnya bercanda diiringi tawa. Aku ikut tertawa melihat tingkahnya
yang kadang aneh.
“Lalu, apa yang
kau cari?” tanyaku serius. Rana membisu dengan air muka yang berubah keruh. Aku
mengerti. “Tak usah dijawab Rana..”
Terdengar
helaaan nafasnya yang berat. Ia menatap keluar jendela.
“Hujan lagi..”
suaranya hampir tak terdengar. Aku ikut melihat keluar. Dari tadi memang hujan.
Sudah memasuki akhir tahun, sebentar lagi musim hujan akan berakhir. Dan itu
artinya harapanku kepada Yuki kian menipis, namun rinduku padanya kian memuncak.
Sesaat kemudian,
tanpa diminta Rana menceritakan masa lalunya.
“Dari kecil, aku
sudah mengikuti les piano dan vocal. Itu semua adalah dorongan Papa yang sangat
ambisius menjadikanku seorang pianis sekaligus penyanyi handal. Bukan terkenal.
Alasannya simpel. Ia suka mendengar suara piano, apalagi jika itu aku yang
memainkannya.” Ia terdiam sebentar. Aku menunggu.
“Suatu sore,
ditengah hujan deras, sekitar 3 tahun lalu. Papa mengajakku ke kafe ini dan
memintaku memainkan piano dan menyanyikan lagu You dari Mocca.” ketika Rana
mengucapkan kata terakhirnya, aku sedikit kaget. Namun aku tetap membiarkannya
bercerita. “Saat itu, papa duduk dikursi ini sambil terus melihatku dengan
senyumannya yang indah sekali. dilagu-lagu terakhir yang kunyanyikan, papa
keluar dari kafe. Ku pikir papa lagi menerima telfon, tapi ternyata tidak. Dan
sejak saat itu aku tak pernah melihat papa. Senyumnya, kasih sayangnya,
bentakannya yang konyol itu membuatku tersiksa, Co. Aku seperti kehilangan
setengah jiwaku. Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Kenapa papa
meninggalkanku tanpa memberikan alasana apapun. Aku tanya mama, tapi perempuan
itu hanya diam dan diam. Aku capek mencari papa kemana-mana. Sedangkan mama,
wanita itu gak mau tau. Aku tak tau apa yang terjadi diantara mereka. Itu bukan
urusanku. Aku hanya ingin papa kembali. Tapi beberapa bulan belakangan aku
sadar, papa tak benar-benar meninggalkanku.”
“Kau bertemu
papamu?” tanyaku dengan penasaran. Dan lagi-lagi ia hanya tersenyum sambil
menggeleng kepalanya. Aku menyeritkan kening. “Lalu?”
“Lagu yang
kunyanyikan dihari terakhir melihat papa ternyata mengisyaratkan bahwa aku
adalah orang yang paling papa sayangi, aku adalah pelangi dalam hidupnya. Jadi
aku yakin, papa tak benar-benar meninggalkanku. Mungkin secara nyatanya ia,
tapi aku merasa papa selalu ada didekatku. Itulah sebabnya aku bekerja disini.
Aku takut melupakannya jika aku tak mengenang hari terakhir bersamanya.” Rana
mengakhiri ceritanya. Aku masih terpaku mendengar ceritanya yang menurutku
hampir sama dengan apa yang ku alami dulu.
“Hei! Melamun
aja.” teriak Rana pelan sambil mencubit lenganku.
“Eh, nggak kok.”
jawabku tersadar.
“Kamu sendiri?”
“Aku?”
“Iya. Katanya
kamu juga suka sekali dengan lagu itu. Kenapa?”
“Siapa bilang?
Aku benci lagu itu!” jawabku ketus.
“Jangan bohong.
Kau memang pernah berkata padaku sempat membenci lagu itu. Tapi kemudian kau
menyukainya lagi. Kenapa?”
Aku menerawang
kemasa lalu. Saat-saat bahagia bersama Yuki.
“Aku lagi
menunggu seseorang.”
“Lalu..??” tanya
Rana bingung sambil mengerutkan kening.
“Namanya Yuki. Dia
suka lagu itu. Aku juga. Kami sering menyanyikannya ketika matahari terbenam di
pantai. Suatu hari sekitar setahun yang lalu, Yuki pergi dengan hanya
mengatakan bahwa ia akan kembali jika musim hujan tiba. Disini. Hampir 4 bulan
sejak musim hujan turun yang pertama kalinya, aku menunggu kehadirannya.”
“Kau sangat
mencintainya?”
“Ntahlah. Kadang
cinta ini membuatku benci pada semuanya.”
“Apa kau merasa
tersakiti ketika aku menyanyikan lagu itu?”
“Sakit. Sungguh
sakit Rana…” ujarku dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat pipi Rana basah. Aku
menyesal telah mengatakan itu. “Maaf Rana… bukannya aku..”
“Tak pa Co”,
jawabnya, memotong ucapanku yang belum selesai. “Aku juga sangat sakit jika
menyanyikan lagu itu. Tapi hanya itu yang bisa membuatku tetap ingat dengan
papa, Co..” air mata kian membanjiri wajah manisnya. Tiba-tiba aku merasa
seperti ada sesuatu yang menyengat dihati ini. Cepat-cepat aku menetralkannya
dengan coffelate yang kupesan dari
tadi.
***
Seperti biasa
sepulang dari kantor, aku langsung meluncur ke kafe. Menunggu kekasih kembali.
Benarkah? Apakah Yuki masih menjadi alasanku ke kafe ini, setelah musim hujan
berakhir tahun lalu dan akan segera datang kembali esok hari? Ntahlah.
Sujujurnya aku masih mencintai Yuki. Tapi Rana,,, gadis itu bagaikan pelangi
setelah hujan. Rana memberiku harapan baru. Kami memang tak pernah
mengungkapkan perasaaan masing-masing, tapi dari tingkah kami selama hampir
lebih dari 7 bulan ini cukup membuktikan bahwa kami berdua saling membutuhkan.
Aku sampai di
kafe dan segera duduk ditempat biasa. Tapi hari ini ada yang spesial. Rana akan
menyanyikan sebuah lagu untukku. Dari kejauhan, kulihat Rana sangat cantik. Ia
tersenyum kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman pula. Hatiku semaki
berdebar-debar.
“Lagu ini,
khusus untuk dia yang punya lagu kenangan sama denganku..” ujar Rana sambil
menatapku dengan manis. Rana mulai memainkan pianonya dengan sangat lembut.
Lagu Only You dari Mandy Moore
dinyanyikannya dengan penuh penghayatan.
There’s a song that inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over
again
I’m awake in the infinite cold, but you sing to me
over
And over and over again
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray to be only yours
I pray to be only yours
Wajahku memerah.
Aku terpana. Dan terhanyut dalam senandung itu.
“Dicoo..” aku
merasa mendengar ada yang memanggil namaku, reflek ku toleh kepalaku kearah
suara. Yuki! Wanita yang sudah lama aku tunggu itu berlari kearahku. Aku
terperanjat melihatnya. Ia langsung memelukku. Tapi dengan reflek pula aku
meronta, melepaskan pelukkannya. Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Dico, ini aku,
Yuki.” ujar wanita itu dengan nada merengek. Kulihat Rana menatap kami dari
panggung. Langsung kutarik tangan Yuki ke luar kafe.
“Lalu.” jawabku
datar setelah kami berada diluar.
“Maksudmu..”
“Untuk apa kau
kembali Yuki..” tanyaku dengan suara bergetar. Yuki kaget. “Kau tau Yuki, aku
seperti sekarat menunggumu disini selama musim hujan tahun lalu. Kau
mengingkari janjimu. Aku benci harus berjuang dalam ketidakpastian. Sekarang
bagiku semua kenangan kita telah habis bersama habisnya musim hujan yang lalu.
Pergilah..”
“Kau bohong
Dico!! Kau bohong!” teriak Yuki sambil memukul lenganku. “Aku tahu kau masih
mencintaiku. Aku tahu itu dari matamu Dico. Apa kau lupa, aku sudah 8 tahun
bersamamu. Aku tahu kau bohong atau kau jujur! Aku tahu Dico..!!”
Deg. Jantungku
seperti berhenti. Sejujurnya ingin sekali ku katanya, bahwa apa yang dikatakannya
semua itu adalah benar. Aku bisa saja membohongi diriku sendiri, tapi tidak
dengan Yuki. Wanita ini telah bertahun-tahun menghabiskan waktu denganku. Tapi
apa gunanya?? Semua telah terlambat.
Rana menghampiri
kami. Tapi sebelum ini mendekat, aku sudah mengisyaratkan padanya untuk tidak
mendekat. Rana paham. Ia hanya mematung dipintu kafe. Aku bingung harus
bagaimana menjelaskan kepada 2 wanita yang sama-sama kucintai. Tiba-tiba hujan
turun dengan sangat derasnya. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari,
menerobos hujan tanpa tau kearah mana. Aku hanya ingin berlari dan berlari.
Mungkin hanya untuk melepas rindu pada Yuki dan mungkin juga mencoba bertanya
pada hujan bagaimana caranya melepaskan cinta yang terpendam untuk Rana.
Atau mungkin, meminta hujan untuk tak
lagi datang agar aku tak pernah kehilangan.