Ahlan Wa Sahlan

Minggu, 12 Oktober 2014

TENTANG KITA, HUJAN DAN LAGU

                                     MGC - TENTANG KITA, HUJAN DAN LAGU
                                                                 By: Fadillah Rahmika


Kafe ini penuh sesak. Lampu-lampu kecil berwarna biru itu menerangi setiap sisi ruang kafe. Namun, menurutku itu lebih untuk menambah kesan romantis. Ornamen unik berbentuk ranting kayu yang diberi lampu-lampu kecil warna warni berdiri tegap disamping panggung music. Menemani seorang gadis muda pemain piano. Tak ketinggalan pula lilin kecil disetiap meja. Kafe ini benar-benar menyuguhkan suasana romantis.  
Aku mengalihkan pandangan keluar jendela. Tampak jelas guyuran hujan yang semakin deras. Aku mendesah. Pasrah ditengah ketidakpastian. Yuki. Wanita yang telah mencuri sesuatu dari hatiku itu berjanji akan kembali jika musim hujan tiba. Tapi 3 bulan sudah sejak pertama kali musim hujan tiba, ia tak jua menepati janjinya.
“Apa kau lupa janjimu, Yuki?” tanyaku dalam hati. “Rinduku terus menumpuk bersama tetesan hujan yang membasahi hariku. Aku rindu. Kumohon kembalilah…”
It’s you who makes my life so colourful
It’s you yes it’s you that I adore
It’s you who makes my life so comfort
Lagu itu..
Aku terdiam. Terpana. Dan.. aku terluka!
Dengan tubuh yang bergetar, ku tatap gadis pemain piano yang begitu syahdu menyanyikan lagu YOU dari MOCCA.  Sentuhan lembut tangannya memainkan piano semakin membuatku merinding.
Tuhan.. Itu lagu kesukaan aku dan Yuki. Kami sering menyanyikannya berdua di pantai diwaktu senja sambil menikmati matahari terbenam. Tapi kenapa pula gadis itu memainkannya dikala hujan seperti ini?? Apa jangan-jangan dia tahu apa yang kurasa? Ah. Tentu tidak. Dia bukan peramal yang mengetahui isi hati seseorang. Ia hanya gadis biasa yang mencari pekerjaan  sampingan sejak 2 minggu lalu. Begitu cerita yang kudengar dari pemilik kafe ini, yang kebetulan adalah temanku. Tapi, tetap saja gadis itu membuatku terluka akan kenangan bersama Yuki.
Nobody has
No one can make my dreams come true
Cause no one can compare to you, yes it’s you
Your love makes my wishes come true
Dan tiba-tiba aku benci lagu itu. Aku benci hujan. Dan aku benci gadis itu!!
 “Cukup. Cukup. Hentikan! Kau merobek jiwaku! Ku mohon hentikan!” aku meronta dalam diam sambil menutup kupingku. Serasa ada beribu-ribu anak panah yang menghujam tubuhku. Tak lama aku mendengar suara riuh tepuk tangan pengunjung kafe.
“Terimakasih” kulihat gadis itu bangkit dan membungkukkan badan kearah penonton.
Sial. Kau terlihat bahagia sekali heh. Apa kau tak sadar ada yang terluka saat kau menyanyikan lagu itu? Gerutukku dalam hati.
Dengan penuh kebencian, ku amati gadis yang dari tadi terus tersenyum kearah penonton. Kemudian ia berlalu, seperti ingin meninggalkan kafe ini. aku sudah menampung semua kekesalanku dan akan ku luapkan kepada gadis itu. Ia berjalan melewati mejaku. Tak menunggu lama, aku langsung menyusul langkahnya dari belakang. Diluar kafe kulihat ia meraih handphonenya yang berdering. Tanpa berdosa, aku menguping pembicaraannya sambil pura-pura menikmati hujan.
“Halo Ma, ada apa lagi?” gadis itu bicara sedikit ketus. Aku semakin penasaran. Kupasang kupingku tajam-tajam. “Sudah berapa kali Rana bilang, Rana gak suka sama Tio, Ma..” gadis memelas. Oh, Rana namanya. Tapi siapa pula Tio? Ah bodoh amat. Aku melangkah mendekatinya untuk siap-siap melabrak gadis itu. Tapi langkahku terhenti, ketika kulihat gadis itu menangis sambil menutup pembicaraanya tadi. Ketika ia berbalik, mata kami bertubrukan. Aku tersentak. Cepat-cepat kualihkan pandangan kearah lain. Dan ia cepat-cepat menghapus air matanya.
“Ada perlu apa?” tanya gadis itu datar ketika menyadari bahwa aku memperhatikannya. Aku gugup. Dan tiba-tiba saja kalimat keluar dari mulutku.
“Kau menangis?”. Ya ampun! Kenapa aku bertanya seperti itu. Aku mengutuk diriku sendiri. Kulihat gadis itu tersenyum sinis sambil berlalu menembus hujan yang masih deras. Aku terpaku. Menatapnya sampai payung biru yang menemani gadis itu menghilang dipersimpangan jalan. Ntah kenapa gadis itu menjadi misterius bagiku. Besok-besok aku akan mengunggunya lagi disini.
***
Ternyata besok dan hari seterusnya, aku dan Rana semakin dekat. Tak disangka, kami akan menjadi teman ngobrol yang asik. Setelah sebelumnya aku minta maaf atas apa yang terjadi diteras kafe sore itu, ketika aku akan melabraknya. Rana, ternyata gadis yang cepat nyambung utuk diajak bicara. Tapi tetap saja, aku dan Rana belum menceritakan pribadi masing-masing. Kami terkadang  hanya membicarakan hal-hal biasa dan lagu, tentunya.
Dari tempat dudukku di dekat jendela, tempat biasa aku menunggu Yuki, aku memandang Rana yang sedang bernyanyi. Terlihat ekspresi wajahnya yang sangat menghayati lagu. Kali ini ia menyanyikan lagu baru, lagu My Immortal yang dibawakan oleh Evanescence. Dan aku suka.
I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone
But though you’re still with me
I’ve been alone all along
Ia tersenyum padaku setelah menyanyikan lagu itu. Ku lambaikan tanganku, sebagai isyarat bahwa aku menginginkannya duduk disini.
“Sudah lama?” tanya Rana sambil duduk dihadapanku.
“Belum, ketika kau bernyanyi tadi aku baru sampai. Kerjaan dikantor buatku pusing.” Rana tertawa renyah. Ini adalah tawanya yang kesekian kali sejak aku mengenalnya. Diam-diam aku bersyukur, bisa menjadi laki-laki yang beruntung karena bisa melihat tawa dan senyum Rana yang sungguh memikat. “Permainanmu di pangggung sangat bagus. Kenapa kau tak bekerja pada perusahaan yang lebih besar? Aku yakin mereka akan tertarik sekali padamu.” lagi-lagi Rana hanya tersenyum.
“Aku bernyanyi dan bermain piano bukan untuk mencari uang Co. Begini-begini aku anak orang kaya loh..” ujarnya bercanda diiringi tawa. Aku ikut tertawa melihat tingkahnya yang kadang aneh.
“Lalu, apa yang kau cari?” tanyaku serius. Rana membisu dengan air muka yang berubah keruh. Aku mengerti. “Tak usah dijawab Rana..”
Terdengar helaaan nafasnya yang berat. Ia menatap keluar jendela.
“Hujan lagi..” suaranya hampir tak terdengar. Aku ikut melihat keluar. Dari tadi memang hujan. Sudah memasuki akhir tahun, sebentar lagi musim hujan akan berakhir. Dan itu artinya harapanku kepada Yuki kian menipis, namun rinduku padanya kian memuncak.
Sesaat kemudian, tanpa diminta Rana menceritakan masa lalunya.
“Dari kecil, aku sudah mengikuti les piano dan vocal. Itu semua adalah dorongan Papa yang sangat ambisius menjadikanku seorang pianis sekaligus penyanyi handal. Bukan terkenal. Alasannya simpel. Ia suka mendengar suara piano, apalagi jika itu aku yang memainkannya.” Ia terdiam sebentar. Aku menunggu.
“Suatu sore, ditengah hujan deras, sekitar 3 tahun lalu. Papa mengajakku ke kafe ini dan memintaku memainkan piano dan menyanyikan lagu You dari Mocca.” ketika Rana mengucapkan kata terakhirnya, aku sedikit kaget. Namun aku tetap membiarkannya bercerita. “Saat itu, papa duduk dikursi ini sambil terus melihatku dengan senyumannya yang indah sekali. dilagu-lagu terakhir yang kunyanyikan, papa keluar dari kafe. Ku pikir papa lagi menerima telfon, tapi ternyata tidak. Dan sejak saat itu aku tak pernah melihat papa. Senyumnya, kasih sayangnya, bentakannya yang konyol itu membuatku tersiksa, Co. Aku seperti kehilangan setengah jiwaku. Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Kenapa papa meninggalkanku tanpa memberikan alasana apapun. Aku tanya mama, tapi perempuan itu hanya diam dan diam. Aku capek mencari papa kemana-mana. Sedangkan mama, wanita itu gak mau tau. Aku tak tau apa yang terjadi diantara mereka. Itu bukan urusanku. Aku hanya ingin papa kembali. Tapi beberapa bulan belakangan aku sadar, papa tak benar-benar meninggalkanku.”
“Kau bertemu papamu?” tanyaku dengan penasaran. Dan lagi-lagi ia hanya tersenyum sambil menggeleng kepalanya. Aku menyeritkan kening. “Lalu?”
“Lagu yang kunyanyikan dihari terakhir melihat papa ternyata mengisyaratkan bahwa aku adalah orang yang paling papa sayangi, aku adalah pelangi dalam hidupnya. Jadi aku yakin, papa tak benar-benar meninggalkanku. Mungkin secara nyatanya ia, tapi aku merasa papa selalu ada didekatku. Itulah sebabnya aku bekerja disini. Aku takut melupakannya jika aku tak mengenang hari terakhir bersamanya.” Rana mengakhiri ceritanya. Aku masih terpaku mendengar ceritanya yang menurutku hampir sama dengan apa yang ku alami dulu.
“Hei! Melamun aja.” teriak Rana pelan sambil mencubit lenganku.
“Eh, nggak kok.” jawabku tersadar.
“Kamu sendiri?”
“Aku?”
“Iya. Katanya kamu juga suka sekali dengan lagu itu. Kenapa?”
“Siapa bilang? Aku benci lagu itu!” jawabku ketus.
“Jangan bohong. Kau memang pernah berkata padaku sempat membenci lagu itu. Tapi kemudian kau menyukainya lagi. Kenapa?”
Aku menerawang kemasa lalu. Saat-saat bahagia bersama Yuki.
“Aku lagi menunggu seseorang.”
“Lalu..??” tanya Rana bingung sambil mengerutkan kening.
“Namanya Yuki. Dia suka lagu itu. Aku juga. Kami sering menyanyikannya ketika matahari terbenam di pantai. Suatu hari sekitar setahun yang lalu, Yuki pergi dengan hanya mengatakan bahwa ia akan kembali jika musim hujan tiba. Disini. Hampir 4 bulan sejak musim hujan turun yang pertama kalinya, aku menunggu kehadirannya.”
“Kau sangat mencintainya?”
“Ntahlah. Kadang cinta ini membuatku benci pada semuanya.”
“Apa kau merasa tersakiti ketika aku menyanyikan lagu itu?”
“Sakit. Sungguh sakit Rana…” ujarku dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat pipi Rana basah. Aku menyesal telah mengatakan itu. “Maaf Rana… bukannya aku..”
“Tak pa Co”, jawabnya, memotong ucapanku yang belum selesai. “Aku juga sangat sakit jika menyanyikan lagu itu. Tapi hanya itu yang bisa membuatku tetap ingat dengan papa, Co..” air mata kian membanjiri wajah manisnya. Tiba-tiba aku merasa seperti ada sesuatu yang menyengat dihati ini. Cepat-cepat aku menetralkannya dengan coffelate yang kupesan dari tadi.
***
Seperti biasa sepulang dari kantor, aku langsung meluncur ke kafe. Menunggu kekasih kembali. Benarkah? Apakah Yuki masih menjadi alasanku ke kafe ini, setelah musim hujan berakhir tahun lalu dan akan segera datang kembali esok hari? Ntahlah. Sujujurnya aku masih mencintai Yuki. Tapi Rana,,, gadis itu bagaikan pelangi setelah hujan. Rana memberiku harapan baru. Kami memang tak pernah mengungkapkan perasaaan masing-masing, tapi dari tingkah kami selama hampir lebih dari 7 bulan ini cukup membuktikan bahwa kami berdua saling membutuhkan.
Aku sampai di kafe dan segera duduk ditempat biasa. Tapi hari ini ada yang spesial. Rana akan menyanyikan sebuah lagu untukku. Dari kejauhan, kulihat Rana sangat cantik. Ia tersenyum kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman pula. Hatiku semaki berdebar-debar.
“Lagu ini, khusus untuk dia yang punya lagu kenangan sama denganku..” ujar Rana sambil menatapku dengan manis. Rana mulai memainkan pianonya dengan sangat lembut. Lagu Only You dari Mandy Moore dinyanyikannya dengan penuh penghayatan.
There’s a song that inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold, but you sing to me over
And over and over again
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray to be only yours
I pray to be only yours
Wajahku memerah. Aku terpana. Dan terhanyut dalam senandung itu.
“Dicoo..” aku merasa mendengar ada yang memanggil namaku, reflek ku toleh kepalaku kearah suara. Yuki! Wanita yang sudah lama aku tunggu itu berlari kearahku. Aku terperanjat melihatnya. Ia langsung memelukku. Tapi dengan reflek pula aku meronta, melepaskan pelukkannya. Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Dico, ini aku, Yuki.” ujar wanita itu dengan nada merengek. Kulihat Rana menatap kami dari panggung. Langsung kutarik tangan Yuki ke luar kafe.
“Lalu.” jawabku datar setelah kami berada diluar.
“Maksudmu..”
“Untuk apa kau kembali Yuki..” tanyaku dengan suara bergetar. Yuki kaget. “Kau tau Yuki, aku seperti sekarat menunggumu disini selama musim hujan tahun lalu. Kau mengingkari janjimu. Aku benci harus berjuang dalam ketidakpastian. Sekarang bagiku semua kenangan kita telah habis bersama habisnya musim hujan yang lalu. Pergilah..”
“Kau bohong Dico!! Kau bohong!” teriak Yuki sambil memukul lenganku. “Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku tahu itu dari matamu Dico. Apa kau lupa, aku sudah 8 tahun bersamamu. Aku tahu kau bohong atau kau jujur! Aku tahu Dico..!!”
Deg. Jantungku seperti berhenti. Sejujurnya ingin sekali ku katanya, bahwa apa yang dikatakannya semua itu adalah benar. Aku bisa saja membohongi diriku sendiri, tapi tidak dengan Yuki. Wanita ini telah bertahun-tahun menghabiskan waktu denganku. Tapi apa gunanya?? Semua telah terlambat.
Rana menghampiri kami. Tapi sebelum ini mendekat, aku sudah mengisyaratkan padanya untuk tidak mendekat. Rana paham. Ia hanya mematung dipintu kafe. Aku bingung harus bagaimana menjelaskan kepada 2 wanita yang sama-sama kucintai. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari, menerobos hujan tanpa tau kearah mana. Aku hanya ingin berlari dan berlari. Mungkin hanya untuk melepas rindu pada Yuki dan mungkin juga mencoba bertanya pada hujan bagaimana caranya melepaskan cinta yang terpendam untuk Rana. Atau  mungkin, meminta hujan untuk tak lagi datang agar aku tak pernah kehilangan.


1 komentar:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com